Oleh: ezahistoria | Maret 5, 2008

Selasa Sore Israel Serbu Khanyunis dan Der Balah

Gaza-Infopalestina : Sore kemarin (4/3) pasukan Israel yang didukung tank dan sejumlah kendaraan berat lainya memasuki distrik Qararah, sebelah selatan Gaza dan Der Balah yang berada di sebelah timurnya, disertai tembakan gencar pesawat tempur Israel.

Saksi mata menuturkan, sejumlah kendaraan berat Israel sore kemarin menyerbu distrik Qororoh diselingi dengan gempuran pesawat tempur Israel. Mereka kemudian berkumpul di persimpangan Abu Al-Ajin sebelah timur Khanyunis. Selanjutnya mereka mengepung rumah salah seorang mujahid Jihad Islam. Sementara pasukan Izzuddin al-Qossam, sayap militer Hamas memberikan perlawanan dengan menembaki pesawat tempur Israel yang sesekali terbang rendah.

Dalam kaitan ini juga, sejumlah pasukan Israel merangsek ke kota Der Balah, dibantu dengan pesawat tempur Israel yang tak henti-hentinya menembaki permukiman penduduk.

Di pihak lain, penduduk sekitar sangat khawatir terjadinya kembali peristiwa pembantaian Israel seperti yang terjadi di Jabalia, sebagai serangan balasan atas kekalahan mereka di sana. Tak kurang dari 124 warga meninggal syahid, 40 diantaranya anak-anak dan 14 wanita. Disamping kehancuran bangunan dan infra setruktur lain. (asy)

Gaza – Infopalestina: Israel sengaja menjadikan anak-anak Palestina sebagai target pembantaian. Seorang bayi Palestina yang baru berusia 20 hari kembali meninggal dunia ditembus kepalanya oleh timah panas Israel. Sementara itu ibu bayi dan seorang warga lainnya terluka dalam serangkaian agresi lanjutan yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza.

Dalam waktu yang sama militer Israel juga membunuh seorang petinggi Brigade Martir al Quds, sayap militer gerakan Jihad Islam. Para saksi mata mengatakan, peristiwa tersebut terjadi ketika pasukan penjajah Zionis Israel menyerbu rumah seorang petinggi gerakan Jihad Islam di desa Abu Ajin di sebelah timur Deir Balah, wilayah tengah Jalur Gaza.

Kepada koresponden Infopalestina, sumber-sumber medis Palestina menegaskan seorang bayi Palestina bernama Amira Khaled Abu Ashr yang baru berusia 3 pekan meninggal dunia setelah tertembak senjata pembunuh Israel di bagian kepalanya. Sementara ibu korban terluka dan ayahnya dicokok Israel. Hal ini terjadi saat keluarga tersebut berkunjung ke salah seorang temannya, Yusuf al Samiri, yang tidak lain adalah seorang petinggi Jihad Islam.

Kepada koresponden Infopalestina, sumber-sumber lokal menegaskan bahwa pasukan penjajah Zionis Israel yang didukung sejumlah tank-tank tempur menyerbu masuk desa Qarara dan Abul Ajin. Kemudian mereka mengepung rumah al Samiri dan berhasil menyerbu rumahnya sambil melancarkan serangan tembakan sengit.

Serangan ini mengakibatkan al Samiri dan bayi Amira gugur, sementara ibunya terluka dan ayahnya dicokok Israel. Pasukan Israel juga mencokok anak al Samiri yang bernama Muadz Yusuf al Samiri. Seorang warga lainnya juga terluka dalam seangan ini.

Dengan demikian, agresi kembali yang dilancarkan Israel sejak Selasa (04/03) pagi telah mengakibatkan 4 orang Palestina gugur. Sebelumnya disebutkan dua orang warga Palestina, salah satunya dari Brigade al Qassam, gugur dan 4 orang lainnya terluka dalam agresi Israel di timur kota Gaza dan wilayah utara Jalur Gaza. (seto)

Oleh: ezahistoria | Maret 5, 2008

Sepakbola, Emosi, dan Kerusuhan

Mungkin cuma di Indonesia penonton bisa terjun langsung menggapluk wasit dan hakim garis. Saking sudah sedemikian mendarah daging, sampai-sampai Yvgeny Khamaruc mencekik Cristian Gonzales dan Serghei Dubrovin memburu asisten wasit. Memang bukan hal baru karena (hampir) setiap pertandingan selalu berakhir rusuh. Soal official saling gebuk juga bukan hal baru. Sekitar dua tahun lalu, pertandingan antara Persigo dan Persiwa juga diwarnai official saling berantem. Mestinya hak siar sepakbola di Indonesia naik harganya karena tayangan 90 menit masih ditambah bonus rusuh 2-3 jam sesudahnya.

Bola memang sering membuat penggemarnya bertindak agresif dan irasional. Daniel Rees dan Kevin Schnepel yang meneliti pertandingan (american) football antar college di Amerika (NCAA) menemukan kerusuhan meningkat 9%, vandalisme naik 18%, dan penangkapan pengemudi yang mabuk sebesar 13% setiap terjadi pertandingan. Kalau tuan rumah mengalami kekalahan dalam pertandingan penting, vandalisme naik 61% dan kerusuhan naik jadi 112%. Jika pertandingan dilangsungkan pada hari Sabtu, angka-angka tersebut naik 0,5%.

Menurut Rees dan Schnepel, kerusuhan tersebut terjadi karena frustasi penggemar yang merasa tim kesayangannya “berhak” mendapat hasil yang lebih baik. Rasa frustasi itulah yang mendorong mereka berbuat rusuh. Dalam kasus tertentu, tim pemenang pun juga bisa membuat rusuh—-misalnya ketika tim peringkat bawah secara mengejutkan mengalahkan tim peringkat atas. Di Morgantown, West Virginia, atau di seputaran University of Connecticut hampir selalu terjadi pengrusakan walaupun tim tuan rumah menang.

Penelitian lain yang dilakukan White, Garland, Janet Katz, dan Kathryn Scarborough pada tahun 1988-1989 menemukan bahwa setiap kali Washington Redskins bermain dan menang, instalasi gawat darurat dua rumah sakit di Virginia Utara selalu kebanjiran pasien yang semuanya perempuan. Football memang begitu populer di Amerika—-seperti halnya sepakbola (soccer) di Indonesia. Tahun 1998 misalnya, hanya ditonton oleh 37,4 juta penggemar, tapi pada tahun 2006 sudah hampir 50 juta penggemar.

Faktor lain yang juga turut menyumbang kerusuhan adalah alkohol, karena jamak dilakukan menonton pertandingan olahraga sambil mabuk. Namun selain itu, Profesor Dahl dan Stefano DellaVigna dari University of California, Berkeley, menyatakan bahwa kerusuhan juga timbul karena pengaruh film penuh yang kekerasan. Di Amerika, sekitar seribu film ditayangkan tiap minggunya—-di mana yang digemari adalah yang penuh kekerasan, seperti Crank, Lucky Number Slevin, Kill Bill, dan sebagainya.

Di luar negeri, sepakbola (soccer), football, atau pertandingan lain yang berujung rusuh memang beberapa kali terjadi, namun biasanya dilakukan di luar lapangan. Dengan demikian, pertandingan tidak terhenti dan fasilitas dalam stadion relatif tidak menjadi korban. Namun yang menarik, masih menurut Rees dan Schnepel, penambahan jumlah polisi ternyata tidak menyelesaikan masalah—-terkadang malah bisa memicu kerusuhan yang lebih besar.

Dalam paper yang lain, Daniel Wann menjelaskan adanya “social learning theory” yaitu ketika seorang penggemar melihat pemain favoritnya melakukan penyerangan pada lawan mainnya, akan memberikan efek provokasi balik terhadap penggemar untuk ikut menyerang pendukung tim lawan. Mungkin sudah saatnya pemain sepakbola di Indonesia tak cuma dilatih soal fisik, tetapi juga soal menahan emosi, menghargai lawan main, dan terutama menghormati keputusan wasit.

Tentu saja hal ini mustahil dilakukan bila organisasi induknya masih dijalankan oleh orang-orang yang hanya mengurusi uang dan tak bisa mengagungkan sportivitas sepakbola.

Oleh: ezahistoria | Maret 5, 2008

Memaknai Kembali Tahlilan

Tergelitik membaca karikatur Kompas pagi ini, tak cuma meninggalnya mantan presiden Soeharto yang diperingati juga dengan tahlilan selama 7 hari berturut-turut, rasanya budaya Jawa “mengharuskan” setiap orang meninggal dilakukan tahlilan selama tujuh hari (menurut penanggalan Jawa) berturut-turut, juga pada hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000.

Ada yang menyebut acara semacam ini sebagai tahlilan, namun ada juga yang menyebutkan selamatan atau kenduri/kenduren. Biasanya keluarga yang meninggal mengundang kerabat atau tetangga sekitar untuk membaca dan berdoa untuk yang meninggal. Selain bacaan tahlil, tasbih, tahmid, sholawat nabi, seringkali disertai membaca surat Yasin dan ditutup dengan doa. Setelah tahlilan, biasanya keluarga yang meninggal memberikan makanan (kadang amplop) untuk dibawa pulang.

Biarpun saya lahir dan dibesarkan dalam budaya Jawa, namun saya belum pernah menemukan aturan baku soal ini. Kalau saya tanya ke orang tua atau kakek nenek saya dulu, jawabannya klise: ini yang diajarkan pendahulu kita. Kalau saya tanya gimana seandainya nggak pakai tahlilan, selalu dijawab singkat, “ora ilok” (tidak pantas). Tapi ada juga yang berteori bahwa yang demikian ini sebenarnya adalah akulturasi budaya Jawa kuno/Hindu kuno yang memberi pengaruh pada agama Islam saat ini.

Pada dasarnya Islam tidak mengajarkan tahlilan semacam ini. Dalam sebuah hadist riwayat Abu Hurairah, Rasul pernah mengatakan bahwa, “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya.” Artinya, tahlilan—-atau bacaan apapun yang dikirimkan kepada yang meninggal—-sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak.

Selain itu, dari hadist tersebut di atas, ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil.

Pertama. Sebagai orang tua, kita jangan terlalu menggantungkan diri pada “anak sholeh” untuk mendoakan kita setelah kita tiada. Iya kalau mereka mendoakan kita. Kalau nggak? Biar bagaimana pun, anak akan membawa jalan kehidupannya sendiri.

Lebih baik kita mempersiapkan bekal kita sendiri dengan banyak beramal dan berbuat baik, menafkahkan harta di jalan Allah, membagi ilmu yang bermanfaat, termasuk mendidik anak kita dengan baik. Walau anak adalah “milik” kita, kita jangan terlalu berharap mereka akan mendoakan kita. Anggap saja “anak sholeh yang mendoakan orang tuanya” hanya sebagai “bonus.”

Kedua. Sebagai seorang anak yang ingin berbakti dan mendoakan orang tua kita yang sudah tiada, ada baiknya kita melakukan introspeksi terlebih dahulu. Sudah sholeh-kah kah kita? Doa yang diterima adalah doa anak yang sholeh. Artinya, kalau memang ingin mendoakan orang tua kita, tentu kita sendiri harus menjadi sholeh terlebih dahulu.

Menjadi sholeh juga bukan merupakan pekerjaan yang gampang. Menjadi sholeh juga bukan melulu sholat berjamaah di masjid, melainkan lebih dari itu: senantiasa berbuat baik, santun dalam berperilaku, rendah hati, bertutur kata yang tidak menyakitkan hati, dan masih amat sangat banyak lagi.

Untuk “menguji” apakah kita sudah pantas disebut “sholeh” caranya mudah. Kalau kita mendoakan orang lain, pasti banyak dari doa-doa kita yang dikabulkan. Pertanyaannya sekarang, apakah doa-doa kita banyak yang langsung dikabulkan? Kalau belum, apakah pantas kalau kita menyebut diri kita sholeh?

Oleh: ezahistoria | Maret 4, 2008

My Profil

Assalamu’alaikum

Hello smuanya….

Kenalin nama ane eza, tepatnya Reza Ardiansyah. Ane lahir di Cirebon tepatnya di Desa Gegesik Wetan. Sekarang ane tinggal di desa Panunggul kec. gegesik kab. cirebon. Riwayat pendidikan ane: TK Fatimiyah Panunggul, SDN 1 Panunggul, SMPN 1 Gegesik, SMAN 1 Palimanan, and sekarang ane lagi kuliah di Education University of Indonesia jurusan pend. sejarah udah semester 4…

Tebarkan kasih sayang dan cinta kasih di seluruh dunia….Peace of Love and Peace on the World

See You… ^_^

Wassalamu’alaikum

Oleh: ezahistoria | Maret 4, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori