Oleh: ezahistoria | Maret 5, 2008

Memaknai Kembali Tahlilan

Tergelitik membaca karikatur Kompas pagi ini, tak cuma meninggalnya mantan presiden Soeharto yang diperingati juga dengan tahlilan selama 7 hari berturut-turut, rasanya budaya Jawa “mengharuskan” setiap orang meninggal dilakukan tahlilan selama tujuh hari (menurut penanggalan Jawa) berturut-turut, juga pada hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000.

Ada yang menyebut acara semacam ini sebagai tahlilan, namun ada juga yang menyebutkan selamatan atau kenduri/kenduren. Biasanya keluarga yang meninggal mengundang kerabat atau tetangga sekitar untuk membaca dan berdoa untuk yang meninggal. Selain bacaan tahlil, tasbih, tahmid, sholawat nabi, seringkali disertai membaca surat Yasin dan ditutup dengan doa. Setelah tahlilan, biasanya keluarga yang meninggal memberikan makanan (kadang amplop) untuk dibawa pulang.

Biarpun saya lahir dan dibesarkan dalam budaya Jawa, namun saya belum pernah menemukan aturan baku soal ini. Kalau saya tanya ke orang tua atau kakek nenek saya dulu, jawabannya klise: ini yang diajarkan pendahulu kita. Kalau saya tanya gimana seandainya nggak pakai tahlilan, selalu dijawab singkat, “ora ilok” (tidak pantas). Tapi ada juga yang berteori bahwa yang demikian ini sebenarnya adalah akulturasi budaya Jawa kuno/Hindu kuno yang memberi pengaruh pada agama Islam saat ini.

Pada dasarnya Islam tidak mengajarkan tahlilan semacam ini. Dalam sebuah hadist riwayat Abu Hurairah, Rasul pernah mengatakan bahwa, “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya.” Artinya, tahlilan—-atau bacaan apapun yang dikirimkan kepada yang meninggal—-sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak.

Selain itu, dari hadist tersebut di atas, ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil.

Pertama. Sebagai orang tua, kita jangan terlalu menggantungkan diri pada “anak sholeh” untuk mendoakan kita setelah kita tiada. Iya kalau mereka mendoakan kita. Kalau nggak? Biar bagaimana pun, anak akan membawa jalan kehidupannya sendiri.

Lebih baik kita mempersiapkan bekal kita sendiri dengan banyak beramal dan berbuat baik, menafkahkan harta di jalan Allah, membagi ilmu yang bermanfaat, termasuk mendidik anak kita dengan baik. Walau anak adalah “milik” kita, kita jangan terlalu berharap mereka akan mendoakan kita. Anggap saja “anak sholeh yang mendoakan orang tuanya” hanya sebagai “bonus.”

Kedua. Sebagai seorang anak yang ingin berbakti dan mendoakan orang tua kita yang sudah tiada, ada baiknya kita melakukan introspeksi terlebih dahulu. Sudah sholeh-kah kah kita? Doa yang diterima adalah doa anak yang sholeh. Artinya, kalau memang ingin mendoakan orang tua kita, tentu kita sendiri harus menjadi sholeh terlebih dahulu.

Menjadi sholeh juga bukan merupakan pekerjaan yang gampang. Menjadi sholeh juga bukan melulu sholat berjamaah di masjid, melainkan lebih dari itu: senantiasa berbuat baik, santun dalam berperilaku, rendah hati, bertutur kata yang tidak menyakitkan hati, dan masih amat sangat banyak lagi.

Untuk “menguji” apakah kita sudah pantas disebut “sholeh” caranya mudah. Kalau kita mendoakan orang lain, pasti banyak dari doa-doa kita yang dikabulkan. Pertanyaannya sekarang, apakah doa-doa kita banyak yang langsung dikabulkan? Kalau belum, apakah pantas kalau kita menyebut diri kita sholeh?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori